Malang – Ketua KONI Soloraya, Her Suprabu, bersama jajaran pengurus KONI se-Soloraya melakukan kunjungan studi tiru ke KONI Kota Malang. Kunjungan ini bertujuan untuk menggali praktik baik dalam tata kelola organisasi, pembinaan atlet, serta penguatan sistem penganggaran olahraga.
Rombongan KONI Soloraya disambut langsung oleh Sekretaris Umum KONI Kota Malang, Joko Purwo Susanto, serta Mas Ut Prawidiyandoko, Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) KONI Kota Malang. Suasana kunjungan berlangsung hangat dan interaktif, ditandai dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang intens.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai topik strategis dibahas, di antaranya sistem penganggaran olahraga, regulasi atlet yang berpindah domisili antar daerah, hingga pola pembinaan atlet yang berkelanjutan. Diskusi ini menjadi ruang berbagi pengalaman antara KONI Soloraya dan KONI Kota Malang dalam menghadapi tantangan pembinaan olahraga prestasi.
Banyak Praktik Baik Siap Diterapkan di Soloraya
Dalam wawancara di sela kunjungan, Her Suprabu menyampaikan bahwa kunjungan ke KONI Kota Malang memberikan banyak masukan positif yang berpotensi diterapkan di wilayah Soloraya, khususnya Kota Surakarta.
“Kunjungan kita ke KONI Kota Malang hari ini cukup banyak masukan yang bisa kita terapkan. Salah satunya adalah adanya dewan pengasuh di tiap cabang olahraga yang nantinya bisa berkolaborasi dengan para pengusaha di Kota Solo, wali atlet, dan orang tua atlet,” ujar Her Suprabu.
Ia menjelaskan, KONI Soloraya ke depan berencana mengumpulkan orang tua atlet dari masing-masing cabang olahraga untuk membangun komunikasi dan gotong royong dalam pembinaan atlet.
“Pembiayaan pembinaan ini tidak hanya bertumpu pada KONI saja, tetapi bisa dilakukan secara gotong royong bersama. Harapannya, kepercayaan semakin meningkat dan permasalahan pendanaan bisa diselesaikan bersama, tidak hanya menjadi tanggung jawab KONI,” tambahnya.
Fasilitas Penunjang Atlet Jadi Perhatian
Selain sistem pembiayaan, Her Suprabu juga menyoroti penataan dan kelengkapan fasilitas di KONI Kota Malang yang dinilai sudah cukup maju. Di antaranya tersedianya ruang psikologi, ruang terapi, ruang pijat, hingga fasilitas gym yang terintegrasi.
“Ini menjadi gambaran bagi kami. Mudah-mudahan di tahun 2026 atau 2027 fasilitas seperti ini bisa kita wujudkan di Soloraya, sehingga atlet mendapatkan pendampingan psikologi, terapi, dan kebugaran dalam satu kawasan KONI,” ungkapnya.
Gagasan Porwil Soloraya
Lebih lanjut, Her Suprabu juga menyampaikan rencana strategis pascakunjungan tersebut, khususnya untuk mengatasi minimnya frekuensi kompetisi di Jawa Tengah.
“Dalam waktu dekat, Soloraya akan mengadakan Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) sendiri. Di Jawa Timur Porprov dilaksanakan dua tahun sekali, sementara di Jawa Tengah masih empat tahun sekali, sehingga jedanya terlalu panjang,” jelasnya.
Menurutnya, panjangnya jeda kompetisi membuat sejumlah atlet Jawa Tengah berpindah ke daerah lain demi mendapatkan kesempatan bertanding. Melalui Porwil Soloraya, KONI berharap dapat menjembatani kebutuhan atlet untuk tetap berkompetisi dan mengukur prestasi secara berkala.
“Kita mulai dengan beberapa cabang olahraga terlebih dahulu. Yang penting ada kompetisi dan tidak ada jeda terlalu lama bagi atlet untuk menunjukkan prestasinya,” pungkas Her Suprabu.
Kegiatan studi tiru ini ditutup dengan penyerahan cinderamata berupa buku dan kalender sebagai simbol silaturahmi dan penguatan kerja sama antara KONI Soloraya dan KONI Kota Malang.