Bawa Olahraga "Keras" ke Dalam Kampus: Nekat Gelar Turnamen Tinju, Mahasiswa UTP Solo Justru Panen Pujian dan Bagi-Bagi Beasiswa!
29 June 2026, 13:49:594 hours ago

news-image
SURAKARTA – Mengubah aula kampus menjadi arena adu jotos mungkin terdengar seperti ide yang memancing kontroversi. Namun, Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta membuktikan sebaliknya. Lewat ajang UTP Boxing Fest Vol.1 yang digelar pada Minggu (28/6/2026) di Aula Kampus 3 Plesungan, stigma olahraga "keras" di lingkungan akademik berhasil didobrak dan disulap menjadi panggung prestasi yang elegan.

Kejuaraan yang baru pertama kali digelar ini berhasil menyedot 138 petarung dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum di Solo Raya dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Yang paling mengejutkan? Gebrakan skala regional ini ternyata murni diinisiasi oleh mahasiswa!
Alih-alih menggelar pentas seni atau seminar sebagai penutup masa kepengurusan, panitia mahasiswa UTP mengambil langkah berani dengan memilih tinju—cabang olahraga yang jarang disentuh di tingkat kampus.

Ketua Panitia, Novawantya R.F.P., mengakui bahwa keputusan ini menabrak kebiasaan lazim organisasi kemahasiswaan.
“Ini merupakan inisiatif dari teman-teman mahasiswa. Awalnya ada beberapa pilihan, tetapi akhirnya diputuskan menggelar boxing karena dinilai menarik dan belum banyak diselenggarakan di lingkungan kampus,” paparnya.
Langkah berani ini dieksekusi dengan sangat profesional. Kompetisi digelar serius selama dua hari; hari pertama khusus untuk registrasi, timbang badan, dan medical check-up, sementara hari kedua menjadi puncak pembuktian di atas ring.

Langkah out-of-the-box mahasiswa UTP ini rupanya tidak dipandang sebelah mata oleh pemangku kebijakan. Bukannya dikritik karena membawa olahraga kontak fisik ke kampus, acara ini justru mendapat dukungan penuh dan pengakuan langsung dari Pemerintah Kota Surakarta serta KONI Kota Surakarta.

Dr. Agus Supriyoko, Perwakilan Bidang Pembinaan Prestasi KONI Kota Surakarta sekaligus juga sebagai dosen prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga dan Kepala Badan Penjaminam Mutu UTP Surakarta, bahkan menyebut ajang ini sebagai tambang emas pencarian bibit atlet menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah.
“Kami mengapresiasi talenta-talenta muda yang mengikuti kejuaraan ini. Kami berharap ajang ini mampu mencetak bibit-bibit atlet tinju profesional yang nantinya mengharumkan nama Kota Surakarta,” ujar Agus, menyampaikan pesan apresiasi dari Ketua Umum KONI Surakarta, Her Suprabu.

Dukungan serupa datang dari Kepala Bidang Olahraga Dispora Kota Surakarta, Tri Honggo Herry Santoso. Mewakili Wali Kota, ia menegaskan bahwa tinju bukan sekadar ajang "baku hantam", melainkan instrumen pembentuk mental.
“Ajang ini tidak hanya melahirkan para juara, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembinaan olahraga generasi muda. Olahraga bukan hanya soal menang kalah, tetapi membentuk karakter, keberanian, dan kedisiplinan,” tegasnya.

Kontroversi positif ini mencapai puncaknya ketika pihak Rektorat UTP memberikan ganjaran tak terduga bagi para petarung. Tidak hanya medali, mereka yang babak belur berjuang di atas ring namun menunjukkan prestasi emas, langsung ditawari karpet merah untuk berkuliah di UTP.
Wakil Rektor III UTP Surakarta, Prof. Dr. Nurudin Priya Budi Santosa, M.Or., secara terbuka menantang para atlet untuk mengambil kesempatan beasiswa tersebut.

Pernyataan Terbuka Rektorat: “Bagi atlet yang berprestasi dan ingin melanjutkan kuliah di UTP, kami siap memberikan beasiswa. Silakan berkoordinasi dengan bagian Humas dan Promosi UTP,” ungkap Prof. Nurudin.
Ia berharap, gebrakan yang awalnya hanya ide mahasiswa ini bisa menjadi agenda rutin kampus. Sebuah pembuktian nyata bahwa dari keberanian mendobrak zona nyaman, UTP Solo berhasil menyatukan energi anak muda, dukungan pemerintah, dan institusi pendidikan dalam satu ring kebanggaan.
Berita Lainnya Lihat Selengkapnya