SURAKARTA – Markas Polresta Surakarta mendadak dipenuhi ketegangan dan sorak-sorai ratusan pelajar pada Sabtu (23/5/2026). Bukan karena ada razia, melainkan karena ratusan siswa SMP dan SMA se-Kota Surakarta tengah 'adu mekanik' dalam partai puncak Grand Final Polresta
Surakarta Championship Season 2.
Ajang bergengsi ini sukses menjadi gebrakan nyata hasil kolaborasi antara Pengurus Cabang E-Sport Indonesia (ESI) Kota Surakarta dengan Polresta Surakarta. Ekosistem olahraga elektronik di Kota Bengawan ini juga mendapat backup penuh dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Surakarta dan Pemerintah Kota Surakarta.
Malam puncak tersebut terasa semakin spesial dengan hadirnya tokoh-tokoh penting daerah, mulai dari Wali Kota Surakarta Respati Ardi, Kapolresta Surakarta Kombes Pol Catur, Perwakilan KONI Kota Surakarta Nafis dan Harry Suswanto, hingga Ketua Umum Cabor ESI Kota Surakarta Prima.
Wali Kota: "Di Sini Tidak Ada yang Paling Jago!"
Hadir langsung di tengah-tengah ratusan gamers muda, Wali Kota Surakarta Respati Ardi melontarkan tantangan yang membakar semangat. Ia meminta para pelajar tidak hanya sekadar memamerkan skill individu, melainkan membuktikan mental juara melalui sportivitas.
Di hadapan para peserta, Wali Kota menegaskan esensi sejati dari e-sport. "Olahraga ini adalah tentang kerja sama tim. Jadi di sini tidak ada individu yang paling bagus dan paling jelek, yang terpenting adalah bagaimana kalian bisa berkolaborasi menjadi satu kesatuan," tegas Respati Ardi. Pesan ini menjadi pengingat bahwa komunikasi dan kekompakan adalah kunci utama menembus kancah profesional.
Bukan Sekadar Hobi, Ini Ajang Pembibitan!
Ketua Umum ESI Kota Surakarta, Prima, membeberkan bahwa turnamen tahun ini mendapat animo yang luar biasa dengan partisipasi mencapai 80 sekolah dari tingkat SMP dan SMA. Mempertandingkan divisi bergengsi Mobile Legends dan Free Fire, ajang ini dirancang bukan sekadar untuk wadah penyaluran hobi.
Melalui kompetisi yang masif ini, Prima berharap para pelajar bisa mengasah kemampuan komunikasi, strategi, dan kerja sama tim. Kejuaraan ini merupakan salah satu amunisi utama ESI Kota Surakarta untuk menjaring bibit-bibit baru yang kelak akan mengharumkan nama kota di kancah nasional.
Haramkan Pro Player Turun Gunung
Dukungan penuh dari pihak kepolisian dan otoritas olahraga mendapat apresiasi tinggi. Perwakilan KONI Kota Surakarta, Nafis, secara khusus memuji inisiatif Kapolresta Surakarta yang memfasilitasi arena pencarian bakat ini.
"Bapak Kapolresta Kota Surakarta ikut membantu dalam regenerasi atlet, utamanya atlet e-sport di Kota Surakarta," ungkap Nafis di lokasi acara.
Menariknya, untuk menjamin kemurnian pencarian bakat dari akar rumput, pihak penyelenggara memberlakukan aturan ketat: Pro player dilarang keras ikut campur.
"Tidak boleh juga atlet-atlet yang pro player atau atlet Porprov untuk main, karena memang fokusnya tadi untuk pembibitan agar memunculkan bibit-bibit baru atlet e-sport yang bagus dari Kota Surakarta," pungkas Nafis.
Sinergi lintas sektoral ini menjadi sinyal kuat bahwa e-sport di Surakarta tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan telah bertransformasi menjadi industri olahraga berprestasi yang dikelola secara serius, terstruktur, dan berkelanjutan.