Aplikasi SiSAKTI Bermasalah, KONI se-Solo Raya Desak Panitia Porprov 2026 Selesaikan Verifikasi Atlet
20 August 2026, 17:21:375 hours from now

news-image
SURAKARTA — Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) se-Solo Raya menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) di Surakarta pada Kamis (20/8/2026). Rapat yang diawali dengan kegiatan keakraban olahraga padel bersama ini membahas sejumlah agenda krusial, mulai dari evaluasi kejuaraan hingga kendala teknis krusial menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026 di Semarang Raya.

Rakor tersebut dipimpin langsung oleh Ketua KONI se-Solo Raya, Her Suprabu, didampingi Wakil Ketua Suparwanto. Seluruh perwakilan KONI dari tujuh kabupaten/kota di wilayah Solo Raya terpantau hadir, meliputi Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, Klaten, dan Surakarta.

Salah satu agenda awal yang dibahas dalam forum adalah evaluasi pelaksanaan Pekan Olahraga Wilayah (Porwil). Para pengurus mendiskusikan wacana format kejuaraan, yakni apakah Porwil ke depannya akan diselenggarakan dengan siklus dua tahunan atau empat tahunan.

Meski membahas berbagai agenda, sorotan utama dan paling mendesak dalam Rakor ini tertuju pada persiapan Porprov 2026. Secara khusus, forum menyoroti masalah teknis pada aplikasi Si SAKTI, sebuah sistem verifikasi yang saat ini dinilai bermasalah dan merugikan sejumlah atlet di wilayah Solo Raya.

Ketua KONI se-Solo Raya, Her Suprabu, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima banyak laporan dari daerah terkait masalah fundamental dalam sistem verifikasi tersebut.

"Ada beberapa atlet yang sudah lolos Pra-Porprov itu masih gagal atau belum terverifikasi [di] SiSakti. Padahal Pra-Porprov ini kan juga yang menyelenggarakan dari panitia Porprov, ya," tegas Her Suprabu.

Menurutnya, atlet yang telah berjuang dan dinyatakan lolos pada tahap Pra-Porprov semestinya secara otomatis memiliki hak untuk mengikuti Porprov, dan tidak lagi terganjal oleh urusan verifikasi administratif yang berbelit.

Lebih lanjut, Her Suprabu memaparkan bahwa ketidakjelasan status verifikasi di aplikasi Si SAKTI ini memberikan dampak beruntun, baik bagi jajaran pengurus KONI di daerah maupun bagi mental para atlet.

Bagi pihak manajemen KONI, status atlet yang "menggantung" ini menimbulkan dilema terkait keikutsertaan di Porprov.

Sementara itu, dari sisi atlet, ketidakpastian sistem ini sangat mengganggu fokus dan kesiapan mereka menuju ajang olahraga terbesar di Jawa Tengah tersebut.

"Secara psikologis atlet, kesiapannya juga sudah pasti [terganggu]. Karena kalau belum terverifikasi kan masih ragu-ragu, ya. 'Saya besok masuk Porprov apa nggak', gitu," tambah Her Suprabu mengilustrasikan keresahan para atlet.

Sebagai langkah penyelesaian konkret, ketujuh kabupaten/kota di bawah naungan KONI se-Solo Raya sepakat untuk tidak bergerak sendiri-sendiri. Mereka akan melayangkan protes tertulis sebagai satu wadah kesatuan.

"Kita nanti akan bikin surat ke panitia Porprov, tembusan ke KONI Jawa Tengah tentunya, untuk meninjau ataupun membantu menyelesaikan permasalahan yang masih menggantung ini," papar Her Suprabu.

Melalui surat tersebut, KONI se-Solo Raya mendorong agar status verifikasi para atlet segera diputuskan. Dengan adanya langkah kolektif ini, diharapkan panitia Porprov Jateng 2026 dapat segera membenahi celah pada sistem aplikasi, demi menjamin keadilan dan kelancaran persiapan seluruh atlet yang akan berlaga. 
Berita Lainnya Lihat Selengkapnya