SURAKARTA – Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kota Surakarta resmi memberangkatkan belasan atlet pelajar terbaiknya untuk berlaga di ajang bergengsi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) tingkat Provinsi Jawa Tengah. Kontingen yang mewakili berbagai jenjang pendidikan ini mengusung optimisme tinggi untuk mendulang medali dan mengharumkan nama kota bengawan.
Ketua Umum PTMSI Kota Surakarta, Antonius Sulistyo Wibowo, memaparkan bahwa pihaknya tahun ini mengirimkan total 18 atlet yang terdiri dari pelajar tingkat SD, SMP, hingga SMA. Perjuangan para pahlawan olahraga muda ini akan dikawal langsung oleh dua orang pelatih berpengalaman. Terkait peta persaingan dan target, jajaran pengurus telah mematok pencapaian yang realistis namun tetap prestisius, yakni membawa pulang satu medali emas, dua perak, dan satu perunggu.
"Tumpuan harapan kita untuk target emas ada pada saudara M. Fauzi. Dia akan bertanding di nomor tunggal putra tingkat SMA," ungkap pria yang akrab disapa Pak Toni tersebut saat memberikan keterangan pada Selasa sore.
Lebih jauh, Antonius menjelaskan bahwa M. Fauzi bukan sekadar dipersiapkan untuk ajang Popda semata. Atlet muda berbakat tersebut merupakan aset jangka panjang yang diproyeksikan untuk membela Surakarta di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) masa depan. Saat ini, Fauzi berstatus sebagai pemain lapis kedua, berada tepat di bawah bayang-bayang para petenis meja senior Surakarta seperti Miko, Nova, dan Anca. Mengingat usianya yang masih sangat muda, Fauzi dinilai memiliki bentang karir yang panjang dan dipersiapkan untuk terus mendulang prestasi hingga dua edisi Porprov mendatang.
Terkait teknis keberangkatan ke ajang Popda Jateng, PTMSI Surakarta memberlakukan sistem bertahap. Para atlet tingkat SD menjadi rombongan pertama yang berangkat pada hari Selasa, disusul oleh atlet SMP pada hari Rabu, dan diakhiri oleh kontingen SMA. Antonius menegaskan bahwa jadwal yang terpisah ini sama sekali tidak menjadi kendala administratif maupun psikologis bagi para atlet.
"Tidak masalah karena yang SD kan masih kecil-kecil, itu kita berangkatkan bersama pelatih. Sedangkan yang SMP dan SMA dirasa sudah cukup dewasa, jadi mereka bisa berangkat berbarengan dengan teman-teman dari cabang olahraga lain menggunakan armada bus yang sama," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Antonius juga mengapresiasi format penyelenggaraan Popda Jawa Tengah tahun ini yang dinilai jauh lebih efisien. Jika pada tahun sebelumnya kompetisi hanya memfasilitasi tingkat SD dengan nomor tunggal dan ganda campuran saja, Popda edisi kali ini langsung mempertandingkan jenjang SD, SMP, dan SMA secara terintegrasi.
Mengenai proses seleksi kontingen yang mewakili Surakarta, Antonius menekankan asas transparansi sekaligus efisiensi. Ia membeberkan bahwa para atlet yang diberangkatkan murni merupakan peraih podium juara satu, dua, dan tiga pada ajang Popda tingkat Kota Surakarta sebelumnya. Namun, proses pemanggilan ini tidak serta-merta berjalan tanpa penyesuaian. Karakteristik kompetisi tenis meja yang memunculkan dua atlet sebagai "juara tiga bersama" mengharuskan pengurus untuk menggelar seleksi laga tambahan guna menentukan siapa yang paling berhak mengisi kuota keberangkatan provinsi.
Tantangan administratif lainnya muncul dari siklus kelulusan sekolah para atlet. Beberapa jawara Popda Kota ternyata sudah berada di tingkat akhir jenjang pendidikannya, seperti kelas 6 SD, kelas 3 SMP, maupun kelas 3 SMA saat ajang kota bergulir. Dinamika ini menyisakan kekosongan kursi yang harus segera diisi oleh atlet lain yang sepadan.
"Yang SMA sudah lulus, berarti kan kita cari pengganti. Terus yang SMP juga begitu, dulu kelas 3 SMP lalu lulus dan masuk SMA, jadi dia ikut seleksi lagi di tingkat SMA. Demikian juga yang SD, kuotanya jadi berkurang karena lulus. Nah, yang seperti itu kita seleksi lagi untuk mencari penggantinya," papar Antonius.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa demi menjaga rasionalisasi dan efisiensi anggaran organisasi, PTMSI Kota Surakarta memutuskan untuk tidak menggelar seleksi terbuka secara massal bagi seluruh pelajar. Pemanggilan dilakukan secara terukur dan tepat sasaran.
"Seleksinya tidak keseluruhan. Enggak semua saya panggil dari awal, itu nanti anggarannya terlalu banyak. Jadi yang kita seleksi hanya yang berada di posisi juara tiga bersama, serta atlet-atlet untuk mengisi kekosongan kuota dari mereka yang sudah lulus itu," pungkasnya menjelaskan metode seleksi taktis yang diterapkan jajarannya.